Judul:
Perjanjian yang kuat
Penulis:
Leyla Hana
Penerbit:
PT Elex Media Komputindo
Tebal
:260 Halaman
Cetakan
I: 2013
ISBN:
978-602-02-2728-3
Sinopsis
buku:
Setiana risau dengan jodoh yang
belum datang juga di usia menjelang 29 tahun. Keluarga besar mencoba
menjodohkannya dengan beberapa pemuda, tetapi semuanya gagal. Setiana memiliki
cinta terpendam kepada Edo, teman dekatnya selama kuliah. Namun, Edo bersikap
biasa saja terhadapnya, bahkan kemudian menikah dengan wanita lain. Setiana
memasrahkan jodohnya kepada Allah Swt., terus memperbaiki diri, sekalipun
beberapa rekan kerjanya tak hentinya bergosip mengenai dirinya yang
"perawan tua".
Setiana memutuskan untuk lebih
mendekatkan diri kepada Allah.
Entah mengapa, Allah
memperlihatkan kepadanya ujian-ujian pernikahan yang menimpa orang-orang di sekitarnya.
Kakaknya yang ingin bercerai dari suaminya hanya karena perbedaan karakter.
Rekan sekantornya yang belum juga dikaruniai momongan meskipun sudah menikah
bertahun-tahun. Bahkan, perselingkuhan dua rekan kerjanya yang sama-sama sudah
menikah. Setiana hanya menginginkan suami yang bisa menjadi imamnya di dunia
dan akhirat. Ia menyadari bahwa pernikahan adalah miitsaqan ghaliizaa yang akan
terus diuji oleh Allah.
=======================
Proses
pencarian dan penantian jodoh senantiasa merupakan hal yang mendebarkan bagi
setiap orang. Sebuah Proses yang kadang kala berliku, tapi tak jarang pula
semudah membalik telapak tangan. Bagi mereka yang didekatkan jodohnya pun tak
luput dari beragam ujian pra dan pasca pernikahan. Demikian pula mereka yang
masih terus bertanya-tanya dimana jodoh mereka berada.
Sudah ataupun belum menemukan jodoh seharusnya
tidak menjadikan kita makhluk yang kufur nikmat, sehingga mengeluh atau bahkan
berputus asa atas keadaan-keadaan yang tidak sesuai harapan kita. yang terpenting dari setiap keadaan
tersebut adalah kadar keimanan kita, sehingga kita bisa menyikapi semua keadaan
dengan 2 kriteria orang mukmin “sabar” atau “bersyukur”.
Dalam
perjanjian yang kuat, Setiana sukses menjadi contoh ideal bagi para muslimah
yang sedang menanti jodoh ataupun gagal berkali-kali dalam proses perjodohan.
Alih-alih merasa depresi dan berputus asa Setiana memilih memasrahkan diri
kepada Allah dan terus memperbaiki dirinya. Ya, sesuai harapannya untuk
mendapatkanjodoh yang mampu menjadi imamnya di dunia dan akhirat memang tidak
ada yang bisa dilakukan Setiana kecuali berusaha memantaskan dirinya untuk
mendampingi pria dengan kriteria tersebut. Ketika kita sudah dalam posisi
pantas untuk mendapatkan pasangan sesuai kadar kepantasan kita maka Allah pasti
mengirimkan jodoh yang juga pantas untuk kita.
Mungkin
karena Setiana memang diposisikan sebagai seorang Muslimah yang akan menjadi
contoh ideal bagi pembacanya, konflik dalam novel ini terasa datar. Setiana
begitu nrimo dan pasrah atas apa-apa yang terjadi. Sebagai wanita yang gagal
dalam perjodohan beberapa kali, luapan emosi dan perasaan Setiana terlalu terkontrol
dengan baik. Bahkan ketika ditinggal menikah sang pujaan hati reaksinya tetap “ideal”
sekali.
Jika
dibandingkan dengan novel pendahulunya “Cinderella syndrome”, yang sama-sama mengangkat
kisah kehidupan lajangers, rasanya
penuturan dalam novel ini cenderung kurang mengalir, bisa jadi karena dalam
novel kali ini banyak sisipan bahasa Jawa dalam dialog tokohnya. Jika
Cinderella syndrome dituturkan dengan sangat lincah dan kekinian, maka
perjanjian yang kuat bertutur dengan sedikit kaku juga kental aura
kedaerahannya.
Bagian
yang sedikit membuatku mengerutkan kening juga terasa ketika Edo mengirim pesan
kepada Setiana tentang kerinduan hatinya terhadap istrinya. Deuu…berasa pengen
kesel, kesel sama Edo yang buat apa sih ngirim sms begitu ke Setiana, kesannya
minta dikasihani banget. Kesel sama Setiana yang reaksinya justru sesuai yang
diharapkan :kasihan sama Edo. Fyiuuuh…… ketebak deh endingnya kek gimana.
Tapi,
Sebagai sebuah novel berlabel islami, saya menyukai novel ini. Novel ini
bertabur ayat-ayat Al-Qur’an yang disisipkan di sana dan di sini. Pun demikian penyisipan
tersebut tetap terasa pantas dan jauh dari kesan membaca buku teks agama
sehingga unsur entertainment yang memang seharusnya ada dalam sebuah novel
tetap terakomodasi dengan sangat baik. Terlebih dengan lembar-lembar berwarna
dan ilustrasi yang menjadikan novel ini terasa lebih “hidup”.
Jadi,
tentu saja novel ini layak baca bagi siapapun yang ingin memetik hikmah
kesabaran.
Terus
berkarya mba Leyla, aku menunggu karya-karyamu selanjutnya ^_^
Resensi ini diikutsertakan dalam lomba resensi buku BAW dan QuantaBooks
Resensi ini diikutsertakan dalam lomba resensi buku BAW dan QuantaBooks

belum punyaaa.. cakep ya ceritanya, khas mbak leyla kayak cinderella sindrome ya
BalasHapusmba Sarah makin teliti aja resensinya, goodluck
BalasHapusyg ini islaminya lebih kental mba binta....tetep khas mba Ela bangeeet :)
BalasHapusjadi penasaran, moga aja di tobuk sini udah ada
BalasHapusAlhamdulillah, saya anggap itu pujianya mba Eni :) saya masih terus belajar agar tidak sekedar menikmati sebuah buku tapi juga memberi masukan bagi penulisnya agar biisa menghasilkan karya yang lebih baik kedepannya
BalasHapusMakasiih Mbaa... aslinya memang Setiana itu sabar banget dan sms Edo itu nyata adanya (kan ini dari kisah nyata). Kritikannya jadi masukan tuk perbaikanku ke depan :-)
BalasHapusSemoga menginspirasi kebaikan bagi pembaca.aamiin
BalasHapuswah subhanallah deh Setiana itu ya mba Ela....
BalasHapusbetul mba Brien, kisah ini menginspirasi kebaikan bagi pembaca insyaallah