Tampilkan postingan dengan label fiksi islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi islami. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Januari 2016

Fahri, duta Islam yang rahmatan lil 'alamin


sinopsis:

Fahri, yang kini tinggal di Edinburgh dan bahkan menjadi dosen di University of Edinburgh, terpaksa menjalani ke hidupan sehari-harinya sendirian. Bersama dengan Paman Hulusi, asisten rumah tangganya yang berdarah Turki, ia meneruskan kehidupannya tanpa Aisha.

Terkadang Fahri masih saja menangis saat mengingat kenangan-kenangannya bersama Aisha. Kenyataan bahwa istri yang sangat dicintainya itu kini menghilang entah kemana, membuatnya nelangsa dan hampir putus asa. Maka ia menghabiskan hari-harinya dengan menenggelamkan diri dalam kesibukan pekerjaan, penelitian, mengajar, dan bisnis yang dulu dikelola berdua bersama Aisha.

Aisha menghilang dalam sebuah perjalanan ke Palestina bersama teman wanitanya saat ingin membuat cerita dan reportase tentang kehidupan di sana. Teman Aisha ditemukan dalam keadaan sudah kehilangan nyawa dan kondisi tubuh yang mengenaskan dan sangat mungkin kondisi Aisha juga sama meski tubuhnya belum ditemukan saat ini.

Sudah lebih dari dua tahun Fahri berduka dan tenggelam dalam usaha pencarian istri yang sanagat dicintainya itu. Ia pun pindah ke Edinburgh karena itulah kota yang sangat disukai Aisha di dataran Inggris. Dengan menyibukkan dirinya, ia berusaha menyingkirkan rasa sedihnya sekaligus memperbaiki citra Islam dan muslim di negeri dunia pertama itu. Ia berbuat baik pada tetangganya, menyebarkan ilmu agama pada berbagai pihak, dan membantu orang-orang yang butuh bantuannya tanpa memandang bulu.

Berbagai kegiatan menyibukkan dirinya, hingga sebuah pertanyaan mengusik datang dari berbagai pihak. Akankah ia membujang seumur hidup setelah ditinggal Aisha? Akankah ia bertemu dengan istrinya itu sekali lagi?
 
-----------------------------------

Islam??? Mendengar kata itu apa yang terlintas di benak kalian??? Teroris? Tukang debat yang nyolot, tapi minim referensi? Kaum “sok yes” yang merasa paling benar sehingga abai akan hak orang lain? atau justru umat yang besar tapi senantiasa berseteru satu sama lain??

Oh, hai jangan memerah marah membacanya kawan, semua itu adalah potret nyata wajah umat islam kekinian, di Indonesia khususnya. Benar, kita masih melihat umat islam yang saling bercengkrama dengan indahnya, membangun ukhuwah yang erat hingga bagaikan satu tubuh, di mana satu bagian tersakiti maka seluruh bagian tubuh lainnya akan pula terasa sakit. Tapi lihatlah, ukhuwah indah itu hanya berlaku dalam zona terbatas. Begitu keluar dari zona mereka, islam yang mereka sandang adalah islam yang memusuhi, islam yang menyalahkan, islam yang mengkafirkan, bahkan islam yang menghalalkan darah orang lain. Ya, Umat Islam yang eksis saat ini, adalah umat besar yang saling mengedepankan perbedaan dan meninggalkan persatuan. Miris!!!

Kang Abik, melalui Ayat-Ayat Cinta 2 mengajak pembacanya untuk merenungi fenomena ini. “Ada kesenjangan serius antara ajaran islam yang luhur dan sempurna dengan perilaku umat islam yang jauh dari nilai-nilai Islam. Bahkan (cahaya) Islam, tertutup oleh (perilaku buruk) umat islam itu sendiri.”

Meski diturunkan sebagai agama penyempurna, dengan ajaran luhur lagi mengayomi seluruh permasalahan dunia akhirat, dalam kenyataannya sedikit pemeluknya yang sudah menjalankannya secara kaffah. Boro-boro menjalankannya, memahaminya pun mungkin tidak. Bagaimana bisa memahaminya, jika mengilmuinya pun belum.

Seolah melecut semangat menimba ilmu kaum Muslim kekinian, kisah AAC 2 ini kental dengan nuansa akademis. Dalam beberapa bagian kisah AAC 2 ini, Fahri di hadapkan dalam debat ilmiah. Bukan debat sembarang debat, ia berdebat dengan perwakilan yahudi radikal, yang meyakini bahwa merekalah bangsa pilihan, dan semua penghalang mereka adalah golongan Amalek yang harus ditumpas. Dalam kesempatan lain Fahri harus pula berdebat dengan pakar-pakar yang menyamakan semua agama, dan pakar yang justru meniadakan semua agama. Bagian ini seharusnya cukup menyentil pembaca, bahwa umat islam itu wajib cerdas ^_^, Islam itu bukan "sekedar" Syahadat, sholat, puasa, zakat, plus naik haji bagi yang mampu. Tapi Islam, seyogyanya mencerdaskan  dan menyejahterakan pemeluknya serta umat-umat yang berada di sekelilingnya. 
Dibandingkan buku pertama, AAC 2 ini jauuuh lebih tebal ya ^_^,  yang pasti semakin "mature", konfliknya lebih "berat" sekaligus memuat pesan moral yang juga lebih "berani". Tidak sekedar urusan personal, memperbaiki diri, hingga menemukan "kawan" sejati, tapi AAC 2 hadir dengan konflik sosial yang lebih majemuk. Penulisnya dengan berani mengangkat isu-isu sensi dengan pemahaman yang luar biasa luasss sekaligus tetap legit untuk tidak menjadikannya sekelas kitab berat yang tak sanggup dilahap orang kebanyakan.

Kalu dulu aku agak apatis,  lantaran menganggap Fahri itu tokoh yang "malaikat" banget. Sekarang aku bersyukur, meski tokoh imajinatif,  tapi Fahri berhasil menjadi role model muslim yang menjadi rahmatan lil alamin. Fahri-Aisha-Sabina ini bukan tokoh-tokoh serupa malaikat,  tapi mereka prototype dari akhlak seorang muslim sejati. 

Dan aku sangat sepakat dengan pandangan Kang Abik yang tertuang apik dalam buku ini,   seseorang yang beragama dengan sereligius-relegiusnya akan mampu menciptakan kedamaian di muka bumi ini. Dan seorang muslim yang mendalami ajaran agamanya akan menjelma menjadi manusia yang penyayang,  semakin ia memahami islam,  maka semakin penyayang ia, bukannya menjadi teroris ( i told before that terrorists are not muslim) .

Tak panjang katalah,  AAC 2 insyaallah mampu melecut semangat para pembacanya untuk menjadi muslim yang lebih taat,  lebih cerdas,  dan bermanfaat bagi sekitarnya.

Semoga melalui kisah Fahri dalam Ayat-ayat cinta 2 ini,   akan bermunculan Fahri-Fahri nyata yang bersinergi bersama untuk mewujudkan peradaban Islam di muka bumi.
Barokallahu fiik....insyaallah menjadi amal jariyah bagi penulisnya.




JudulAyat-Ayat Cinta 2 
No. ISBN2010000934227 
PenulisHabiburrahman El Shirazy 
PenerbitRepublika 
Tanggal terbitNovember - 2015 
Jumlah Halaman690 
Berat Buku900 gr
Jenis CoverSoft Cover 

Selasa, 18 Maret 2014

Rose: Belajar ikhlas dari ujian kehidupan

RoseRose by Sinta Yudisia
My rating: 3 of 5 stars

Ikhlas, sebuah kata yang sering terucap tapi tak selalu mudah ketika dijalani. Keikhlasan, tidak berarti meniadakan kekecewaan ataupun kesedihan. Ikhlas hanya berarti dua: bersyukur dengan nikmat, dan bersabar dalam ujian.

Novel ini kaya. Kaya tokoh, kaya konflik, sekaligus kaya pesan.

Dengan Mawar sebagai tokoh sentral, porsi saudara-saudaranya yang lain Dahlia, Cempaka, dan Melati tetap seimbang. Bahkan karakter kawan-kawan merekapun tetap tereksplor dengan baik, sehingga tak ada tokoh yang dominan. Semua tokoh di kisah ini sama pentingnya.

Novel keluarga dan konflik berlapis. Aku menikmati membaca episode demi episode di buku ini. Dan aku pun terlarut dalam setiap ujian dan proses penguatan iman masing-masing tokohnya. Bagaimana Melati si bungsu, yang pendapatnya selalu didengar paling akhir justru pertama-tama yang menemukan hidayah, atau Mawar yang memilih mengais hidayah di jalanan bersama kawan-kawan “preman”nya. Dahlia yang berdamai dengan pilihannya sebagai anak tertua yang harus menanggung keuangan keluarga. Atau bagaimana Cempaka yang egois terpaksa harus tergugu ketika menyadari tak semua hal bisa diperoleh dengan kekayaan yang dimilikinya. Sebuah kisah yang sarat hikmah.

Menyelami kisah ini, pembaca menyadari bahwa karakter ikhlas itu terbentuk tidak dengan serta merta, tapi justru melalui proses pembelajaran dari setiap pergulatan batin yang panjang setelah episode-episode pahit kehidupan.


View all my reviews

Selasa, 18 Februari 2014

Betang: Romantisme yang pas di hati



Judul : Betang, Cinta yang Tumbuh dalam Diam
Penulis : Shabrina Ws
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Tebal : 175 halaman
ISBN : 978-602-02-2389-6
Harga : Rp 29.600

Tak masalah duduk di haluan atau buritan, asal kau, tetap menggerakkan dayungmu!.

***

Danum lahir dan besar di rumah Betang (rumah adat Kalimantan). Diajatuh cinta pada dayung sejakpertama kali memilikinya. Bersama Dehen, sahabatnya, mereka menyusuri sungai-sungai, beradu kecepatan.

Atlet nasional! Keliling dunia! Dan mengibarkan merah putih di negeri orang! Keinginan Dehen menular padanya.

Tapi, semua tak semudah yang dia bayangkan.- Ketika Dehen telah sampai di Pelatnas, Danum harus menerjm'a kenyataan berkali-kali gagal di tingkat daerah.

Hingga ketika kesempatan itu datang, waktu justru mem-pertemukannya dengan berbagai pilihan.

Tetap tinggal demi orang yang dicintainya, atau pergi demi eita-citanya?

Memelihara benci pada sosokyang telah meninggalkannya, atau memaafkan dan mengambil ladang surga?

Menyimpan rapat perasaan yang telah mengendap di hatinya atau melihat sahabatnya terluka?

Dia penah berkali-kali gagal. Dia pernah berkali-kali kehilangan. Pada akhirnya waktu memberinya pelajaran, bahwa hidup sempurna , bukan berarti semua betjalan sesuai keinginannya
=======
Ditengah kesibukan yang meningkat, aku melirik puluhan buku yang belum terbaca. Dan memilih Betang, pada pilihan pertama. Alasannya simple: bukunya imut dan pengarangnya Mba Brien gitu loh ^_^. Ya setelah membaca Always be in your heart dulu, aku benar-benar menantikan karya mba Brien selanjutnya.

Betang, terselesaikan  kurang dari satu jam. Dan perasaanku saat itu “hah? Udah selesai?” kalu boleh meminta, maunya sih betang bisa lebih tebal lagi xixixi.
Untuk mengomentari Betang dalam satu kata aku Cuma punya kata “PAS”. 

Betang itu pas di hati. Kalu Always be in your heart bagiku menghadirkan romantisme yang “anggun”, Betang ini menghadirkan romantisme yang hangat. Gak penuh bunga-bunga, sederhana, tapi terasa hangatnya hingga di hati. 

Betang itu Pas di logika. Gak dangkal juga gak lebay kayak sinetron. Konfliknya gak meledak-ledak tapi justru terasa real hingga mampu menyeret emosi pembaca.

Betang itu Pas motivasinya. Tidak cengeng juga tidak membuai dengan mimpi-mimpi. Keberhasilan itu perlu kerja keras. Gak ada mimpi yang bisa terwujud jika kita hanya bermimpi.

Betang itu pas islaminya. Gak menggurui tapi pesannya dapet. Benar-benar sebuah novel islami yang mencerahkan dengan cara yang pas. 

 Membaca Betang, di benakku berkelindan semua kenangan bersama almarhum kaiku. Kai yang cerewet tapi sangat menyayangi cucu-cucunya. 

Membaca Betang, aku juga teringat sebuah rumah betang tak berpenghuni yang ada di daerahku. Yang sejak bisa mengingat rasanya rumah itu sudah tak berpenghuni dan kami entah bagaimana asal mulanya justru menyebutnya rumah Abunawas. Sekarang rumah betang ini sisa puing-puing, di sekitarnya sudah banyak dibangun rumah batu. Aku sempat bertanya-tanya kenapa masih dipertahankan oleh pemiliknya. Membaca Betang, aku jadi berpikir mungkin rumah Betang itu juga punya kenangan tersendiri sehingga pemiliknya masih terus mempertahankannya (meski rumornya itu rumah berhantu makanya gak bisa dirubuhin xixixi).

Dan, kalu gak kenal Mba Brien aku pasti mengira beliau ini asli Kalimantan. Penggunaan bahasa daerahnya, deskripsi setting, sampai pesan lingkungannya dapet banget. Kalu toh ada yang mengganjal saat membacanya cuman penggunaan kata “cowok”. Kata yang gak pas dengan kekalimantanan yang menyelimuti si Danum itu. Mungkin lebih pas dengan kata lelaki,pria, atau laki-laki. Gak penting banget deh, cuman rasanya aku yang lahir dan tumbuh besar dikalimantan ini memang asing dengan penggunan idiom tersebut. jadinya kalimatnya terasa janggal. Tapi asli gak mempengaruhi sama sekali kekerenan buku ini.

4 bintang dariku. Keep writing mba Brien. Semoga karya-karyamu semakin berkah dan menjadi amal jariyah bagimu…




Senin, 10 Februari 2014

Surga Yang TerlarangSurga Yang Terlarang by Leyla Hana
My rating: 4 of 5 stars

Menilik ketebalan buku, gaya bertutur, alur yang runtun dari masa kuliah, konflik pra pernikahan hingga pasca pernikahan, mau tak mau aku teringat jean-sofia. Rasanya lamaaa sekali hingga akhirnya mba Leyla kembali menelurkan novel dengan “rasa” serupa namun dengan feel lebih dalam dan penggarapan konflik dan setting yang jauh lebih matang.

Setelah dulu membaca jean- sofia, aku membaca beberapa karya mba Leyla lainnya yang terbit dalam rentang tersebut. Sebut saja Cinderella syndrome, Jakarta to Frankfurt, dan Perjanjian yang kuat. Ketiga novel tersebut tentu tak dapat menyaingi ketebalan jean- sofia. Kisah-kisahnya memang tak kalah menarik namun “rasa”-nya sedikit berbeda.

Membaca Surga yang terlarang, aku menemukan kembali perasaan tersentuh, air mata yang memenetes, juga romantika yang syahdu. Aku tidak menemukan kalimat yang pas untuk menggambarkan ”rasa” tersebut yang pasti kesannya seperti meninggalkan embun di sudut hati.

Lepas dari kesan-kesan perasaanku yang gak jelas itu, aku takjub dengan jalinan kisah ini. Mba Leyla telah melakukan peningkatan luar biasa pada kualitas karakter tokoh-tokohnya, jalinan konflik yang tetap logis dan setting yang terpapar dengan lebih baik.

Sebagian kisah ini mengingatkanku pada sebuah ironi ketika melihat suami yang terlihat begitu peduli dan sibuk dengan umat justru tak menyadari kefuturan di lingkungan terdekatnya. Dan baru menyesal ketika hal-hal yang tak diinginkan terjadi pada keluarganya.

Halnya pilihan Furqon dalam kisah ini, aku tak kuasa menjudge bahwa pilihan tersebut adalah sebuah pilihan yang menzholimi hak istrinya. Namun sebagai wanita, perasaan Nazma jelas membuat gerimis di hatiku. Sungguh sikap Nazma di sini layaklah dijadikan perenungan bagi wanita-wanita muslimah agar lebih ikhlas dan ridho dalam mendukung setiap pilihan jihad suami tercinta.

Ending kisah ini juga membuatku lega. Lega karena penulis ternyata tidak menyuguhkan ending sesuai dugaanku. Di titik tertentu aku menduga (dan berjanji untuk mengkritik habis-habisan jika dugaanku terbukti ^_^) bahwa penulis akan berusaha menyatukan kembali hati yang telah terpisah.

Dan, pada kenyataannya penulis berhasil menyuguhkan kisah ini dengan menyentuh, manis dan menghadirkan ending yang tidak klise.

Benar-benar sebuah kisah yang layak baca.

Bagaimanapun roda perbukuan Indonesia berputar, aku berharap seorang Leyla hana tetap bisa konsisten untuk menulis kisah-kisah yang menyejukkan seperti kisah SYT ini.

Keep writting mba Leyla…..


View all my reviews

Selasa, 21 Januari 2014

Perjanjian Yang Kuat: Idealnya muslimah dalam penantian dan pencarian jodoh




Judul: Perjanjian yang kuat
Penulis: Leyla Hana
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Tebal :260 Halaman
Cetakan I: 2013
ISBN: 978-602-02-2728-3

Sinopsis buku:

Setiana risau dengan jodoh yang belum datang juga di usia menjelang 29 tahun. Keluarga besar mencoba menjodohkannya dengan beberapa pemuda, tetapi semuanya gagal. Setiana memiliki cinta terpendam kepada Edo, teman dekatnya selama kuliah. Namun, Edo bersikap biasa saja terhadapnya, bahkan kemudian menikah dengan wanita lain. Setiana memasrahkan jodohnya kepada Allah Swt., terus memperbaiki diri, sekalipun beberapa rekan kerjanya tak hentinya bergosip mengenai dirinya yang "perawan tua".