Selasa, 19 Agustus 2014

Aku, Juliet: Bukan kisah Romeo-Juliet ^_^

Penulis: Leyla Hana
Penyunting: Sasa
Penyelaras Akhir: Dyah Utami
Pendesain Sampul: Tim Moka Media
Penata letak: Tri Indah Marty
Ilustrator: N. Rivai
Penerbit: Moka Media
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: iv + 180 halaman
ISBN: 979-795-840-x

Saat pertama kali melihatnya, aku tau aku menyukainya. Tawanya yang renyah, matanya yang indah dan segalanya. Tak ada yang lebih kuinginkan dibandingkan bersamanya. Tetapi jalan kami tak semudah itu. begitu tinggi dinding sekolah memisahkan kami atas nama kebencian yang sudah ada, entah sejak kapan. Terlalu banyak air mata yang mengalir, terlalu banyak darah yang menetes.

Aku tak ingin jadi Romeo. Aku hanya ingin mencintai dia, Julietku. Tetapi cinta tidak berpihak kepada kami. Haruskan kisah cinta kami berakhir tragis seperti Romeo dan Juliet?

============


Sepekan yang lalu, saya mendengar kabar terlukanya seorang siswa menengah di salah satu kota besar di Indonesia dengan cukup parah tersebabkan oleh tawuran. Meski oleh juru bicara salah satu sekolah terkait, kasus tersebut diklaim sebagai pengeroyokan BUKAN tawuran.

Secara definisi, pengeroyokan memang berbeda dengan tawuran. Lepas dari itu, yang membuat miris adalah terbiasanya anak-anak kita dengan tindak kekerasan. Bahkan dalam hal kasus tersebut adalah pengeroyokan BUKAN tawuran, tentu tidak jadi mengurangi dampak negative yang ditimbulkan dari sebuah aksi kekerasan.

Kasus-kasus serupa juga sudah sering terdengar sepanjang tahun,bahkan  menular pada anak-anak yang lebih muda. Sebut saja kasus bully-membully yang terjadi di sebuah Sekolah Dasar. Harusnya pergeseran nilai-nilai moral generasi muda bangsa ini segera menjadi perhatian oleh pemerintah secara umum, dan para orang tua secara khusus.

Sepertinya, berawal dari keprihatinan pada hal yang sama, “Aku, Juliet” terlahir.

Aku, Juliet adalah sebuah novel teenlit terbaru besutan mbaLeyla Hana, seorang novelis yang selama ini telah melahirkan puluhan karya-karya islami. Berjodoh dengan penerbit Moka Media, Aku Juliet terlahir dengan cover yang sedikit “menggoda”. Tampak belakang pinggang ke bawah seorang siswi sekolah dengan seragam yang roknya di atas lutut. Tidak terlalu vulgar memang, namun tetap terasa "menggoda", hingga anak sulung saya merasa malu untuk berfoto bersama buku tersebut. 

"Iiih...malu mi liat gambar ini" protesnya saat kuminta berpose bersama aku juliet
  .
Si nomor dua yang lebih kooperatif ketika diminta berpose  dan atas arahan sang kakak menutup bagian paha di cover^_^



Sepertinya pemilihan cover ini merupakan salah satu trik marketing, dengan cover yang “memikat” diharapkan meningkatkan daya beli masyarakat sehingga nilai kebaikan yang termaktub di dalam novel ini bisa tersampaikan kepada lebih banyak pembacanya. Semoga, insyaallah.

Menyelesaikan novel ini, tidak menghabiskan banyak waktu. Dengan ketebalan yang berkisar 180 halaman, gaya bertutur yang ringan, dan alur yang apik, novel ini bisa dibaca dalam sekali duduk.

Menilik judul dan blurb, pembaca akan membayangkan kisah cinta ala romeo Juliet versi masa kininya. Pada kenyataannya, novel ini tidak mengangkat kisah cinta “sejati” ala Romeo Juliet loh. Justru menggambarkan betapa labil dan beresikonyanya cinta yang dipresentasikan dengan cara salah kaprah (baca:pacaran) dan di usia yang masih belia.

Dalam hal penokohan, bisa dibilang sosok Bayu menjadi sentral kisah ini. Kaitan sebab akibat yang membentuk karakter Bayu tergali secara maksimal.  Proses “show not tell”nya juga dapeeet banget, terutama untuk bagian posesifnya. –Aku sampe mikir, busyet dah anak zaman sekarang ada yak model begini?ckckck-

Sayangnya untuk karakter-karakter lain, porsi "tell"-nya lebih dominan ketimbang show. Sehingga tokoh-tokoh lain itu seolah tenggelam oleh karakter Bayu.

Misalnya untuk karakter  Abby -yang jika merujuk kisah Romeo-Juliet- adalah Romeonya, jadi terasa kurang memorable. Abby itu terlalu sederhana dan biasa. Porsi kehidupan Abby tidak dikulik lebih dalam, sehingga kesan yang ditinggalkannya di benak pembaca juga kurang “nendang”. Saya pribadi mengimajikan sosok Abby yang lebih “heroik”, sosok pembela kebenaran dan keadilan. Bukan sekedar korban yang “kebetulan” berada di tempat dan situasi yang salah.

Adapun tokoh Camar –yang lagi-lagi jika merujuk pada kisah Romeo Juliet- adalah sang Juliet, juga digambarkan sebagai gadis belia yang biasa-biasa saja –cmiiw yaaa…-, ia polos dan lugu, sehingga jatuh cinta pada pandangan pertama pada Bayu. Atau paling tidak, pada awalnya ia berpikir ia jatuh cinta kepada Bayu. Sampai kedekatannya secara sembunyi-sembunyi dengan Abby, menumbuhkan perasaan yang jauh lebih nyaman dan kebahagiaan apa adanya. 

  Jalinan perasaan Abby-Camar memang sesuatu yang indah, namun tergambarkan dengan sederhana dan biasa saja. Hubungan sekolah Juventia-Eleazar yang katanya dipenuhi permusuhan juga hanya digambarkan dengan satu kilasan tawuran di masa lalu. Dan sisanya adalah proses “tell” penulis, sehingga lagi-lagi kesan yang sampai ke pembaca terasa kurang nendang. Permusuhan turun temurun dua sekolah besar itu kurang terasa aura kompetisinya.

Dalam Aku, Juliet tidak ada kisah atau letupan-letupan perasaan yang terlalu dramatis, sehingga ketika ditarik benang merah antara kisah ini dengan kisah Romeo Juliet hanyalah pada permusuhan dua pihak dan akhir yang menimpa sang Romeo.

Dalam kisah ini, penulis juga menyentil para orang tua, bahwa setiap perilaku anak adalah hasil asuhan dan didikan orang tuanya.Membesarkan anak tidak sebatas menyuplai kebutuhan materi mereka belaka. Kasih sayang dan komunikasi yang sehat justru merupakan hal mutlak yang dibutuhkan anak-anak kita. Jangan sampai ketika hal-hal  yang tak kita inginkan terjadi barulah anak mendapatkan perhatian penuh kita. Karenanya, meski disasar bagi para remaja buku ini juga recommended bagi para orang tua.

Menilik karya-karya sebelumnya, tampaknya penulis sedang melebarkan sayap dan keluar dari zona nyaman. Penulis berusaha keluar dari label novelis islami yang setahu saya sudah melekat pada karya-karya beliau. Dan jujur saja, bagi saya penulis sudah cukup berhasil menampilkan image baru, karena setelah membaca Jean- Sofia, cynderella syndrome, perjanjian yang kuat, juga surga yang terlarang, novel ini bagi saya tidak berasa “mba Leyla Hana”.

Semoga dengan genre yang kian melebar, mba Leyla Hana tetap konsisten mengusung nilai-nilai kebaikan yang sesuai syariat Islam. Dan semoga dengan perluasan segmentasi pembaca, nilai-nilai kebaikan tersebut bisa lebih meluas dan menjadi amal jariyah penulis.


2 komentar:

Ila Rizky Nidiana mengatakan...

Aku baca ini jadi inget Daffa love Inka. Jaman mba Leyla nulis teenlit. Hehe :D Covernya memang menggoda, mba. Denger2 sih best seller, mungkin efek covernya x)

sarah amijaya mengatakan...

Setelah baca ini aku penasaran la, membandingkan teenlit ini dengan teenlit mba Leyla zaman dulu. Tapi gak tahu dimana sekarang bisa dapetin teenlit2 mba Leyla zaman dulu. secara yang aku baca yg genre dewasa semua:)

Nah mungkin itu target covernya. Kalu best seller kan pesan kebaikannya kian tersebar luas yaaa... ^_^

Posting Komentar