Selasa, 21 Januari 2014

Perjanjian Yang Kuat: Idealnya muslimah dalam penantian dan pencarian jodoh




Judul: Perjanjian yang kuat
Penulis: Leyla Hana
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Tebal :260 Halaman
Cetakan I: 2013
ISBN: 978-602-02-2728-3

Sinopsis buku:

Setiana risau dengan jodoh yang belum datang juga di usia menjelang 29 tahun. Keluarga besar mencoba menjodohkannya dengan beberapa pemuda, tetapi semuanya gagal. Setiana memiliki cinta terpendam kepada Edo, teman dekatnya selama kuliah. Namun, Edo bersikap biasa saja terhadapnya, bahkan kemudian menikah dengan wanita lain. Setiana memasrahkan jodohnya kepada Allah Swt., terus memperbaiki diri, sekalipun beberapa rekan kerjanya tak hentinya bergosip mengenai dirinya yang "perawan tua". 


Setiana memutuskan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. 

Entah mengapa, Allah memperlihatkan kepadanya ujian-ujian pernikahan yang menimpa orang-orang di sekitarnya. Kakaknya yang ingin bercerai dari suaminya hanya karena perbedaan karakter. Rekan sekantornya yang belum juga dikaruniai momongan meskipun sudah menikah bertahun-tahun. Bahkan, perselingkuhan dua rekan kerjanya yang sama-sama sudah menikah. Setiana hanya menginginkan suami yang bisa menjadi imamnya di dunia dan akhirat. Ia menyadari bahwa pernikahan adalah miitsaqan ghaliizaa yang akan terus diuji oleh Allah.
=======================

Proses pencarian dan penantian jodoh senantiasa merupakan hal yang mendebarkan bagi setiap orang. Sebuah Proses yang kadang kala berliku, tapi tak jarang pula semudah membalik telapak tangan. Bagi mereka yang didekatkan jodohnya pun tak luput dari beragam ujian pra dan pasca pernikahan. Demikian pula mereka yang masih terus bertanya-tanya dimana jodoh mereka berada.

 Sudah ataupun belum menemukan jodoh seharusnya tidak menjadikan kita makhluk yang kufur nikmat, sehingga mengeluh atau bahkan berputus asa atas keadaan-keadaan yang tidak sesuai harapan kita.         yang terpenting dari setiap keadaan tersebut adalah kadar keimanan kita, sehingga kita bisa menyikapi semua keadaan dengan 2 kriteria orang mukmin “sabar” atau “bersyukur”.

Dalam perjanjian yang kuat, Setiana sukses menjadi contoh ideal bagi para muslimah yang sedang menanti jodoh ataupun gagal berkali-kali dalam proses perjodohan. Alih-alih merasa depresi dan berputus asa Setiana memilih memasrahkan diri kepada Allah dan terus memperbaiki dirinya. Ya, sesuai harapannya untuk mendapatkanjodoh yang mampu menjadi imamnya di dunia dan akhirat memang tidak ada yang bisa dilakukan Setiana kecuali berusaha memantaskan dirinya untuk mendampingi pria dengan kriteria tersebut. Ketika kita sudah dalam posisi pantas untuk mendapatkan pasangan sesuai kadar kepantasan kita maka Allah pasti mengirimkan jodoh yang juga pantas untuk kita.

Mungkin karena Setiana memang diposisikan sebagai seorang Muslimah yang akan menjadi contoh ideal bagi pembacanya, konflik dalam novel ini terasa datar. Setiana begitu nrimo dan pasrah atas apa-apa yang terjadi. Sebagai wanita yang gagal dalam perjodohan beberapa kali, luapan emosi dan perasaan Setiana terlalu terkontrol dengan baik. Bahkan ketika ditinggal menikah sang pujaan hati reaksinya tetap “ideal” sekali.

Jika dibandingkan dengan novel pendahulunya “Cinderella syndrome”, yang sama-sama mengangkat kisah kehidupan lajangers, rasanya penuturan dalam novel ini cenderung kurang mengalir, bisa jadi karena dalam novel kali ini banyak sisipan bahasa Jawa dalam dialog tokohnya. Jika Cinderella syndrome dituturkan dengan sangat lincah dan kekinian, maka perjanjian yang kuat bertutur dengan sedikit kaku juga kental aura kedaerahannya.

Bagian yang sedikit membuatku mengerutkan kening juga terasa ketika Edo mengirim pesan kepada Setiana tentang kerinduan hatinya terhadap istrinya. Deuu…berasa pengen kesel, kesel sama Edo yang buat apa sih ngirim sms begitu ke Setiana, kesannya minta dikasihani banget. Kesel sama Setiana yang reaksinya justru sesuai yang diharapkan :kasihan sama Edo. Fyiuuuh…… ketebak deh endingnya kek gimana.

Tapi, Sebagai sebuah novel berlabel islami, saya menyukai novel ini. Novel ini bertabur ayat-ayat Al-Qur’an yang disisipkan di sana dan di sini. Pun demikian penyisipan tersebut tetap terasa pantas dan jauh dari kesan membaca buku teks agama sehingga unsur entertainment yang memang seharusnya ada dalam sebuah novel tetap terakomodasi dengan sangat baik. Terlebih dengan lembar-lembar berwarna dan ilustrasi yang menjadikan novel ini terasa lebih “hidup”. 

Jadi, tentu saja novel ini layak baca bagi siapapun yang ingin memetik hikmah kesabaran.

Terus berkarya mba Leyla, aku menunggu karya-karyamu selanjutnya ^_^ 


 Resensi ini diikutsertakan dalam lomba resensi buku BAW dan QuantaBooks

8 komentar:

Binta Almamba mengatakan...

belum punyaaa.. cakep ya ceritanya, khas mbak leyla kayak cinderella sindrome ya

Eni Martini mengatakan...

mba Sarah makin teliti aja resensinya, goodluck

sarah amijaya mengatakan...

yg ini islaminya lebih kental mba binta....tetep khas mba Ela bangeeet :)

Ila mengatakan...

jadi penasaran, moga aja di tobuk sini udah ada

sarah amijaya mengatakan...

Alhamdulillah, saya anggap itu pujianya mba Eni :) saya masih terus belajar agar tidak sekedar menikmati sebuah buku tapi juga memberi masukan bagi penulisnya agar biisa menghasilkan karya yang lebih baik kedepannya

Leyla Hana Menulis mengatakan...

Makasiih Mbaa... aslinya memang Setiana itu sabar banget dan sms Edo itu nyata adanya (kan ini dari kisah nyata). Kritikannya jadi masukan tuk perbaikanku ke depan :-)

Shabrina ws mengatakan...

Semoga menginspirasi kebaikan bagi pembaca.aamiin

sarah amijaya mengatakan...

wah subhanallah deh Setiana itu ya mba Ela....
betul mba Brien, kisah ini menginspirasi kebaikan bagi pembaca insyaallah

Posting Komentar