Rabu, 22 Januari 2014

The Coffee MemoryThe Coffee Memory by Riawani Elyta
My rating: 3 of 5 stars

Buku ini menguarkan aroma kopi bahkan sebelum membuka lembar pertamanya.

Tetap dengan kekhasan seorang Riawani Elyta. Ide tak biasa yang tentu menjadi karya luar biasa, ide biasa yang juga tetap menjadi karya luar biasa.



Kopi, hal akrab dalam keseharian kita, namun dalam racikan Riawani Elyta kopi sukses menjadi jalinan luar biasa yang mengikat hati tokoh-tokohnya.

Bab awal buku ini menghadirkan ke hadapan saya keindahan gunung seminung dan danau Ranau. Ya, Ranau, sebuah daerah kecil di Sumatra sana yang menjadi tempat suami saya bertumbuh besar. Namun sampai detik ini belum berani saya kunjungi. Ranau yang terkenal dengan kisah si pait lidah dan si mata empat-nya juga aroma kopinya yang memang sudah membuat saya jatuh cinta.

Dengan keterikatan atas pesona Gunung seminung dan danau Ranau-nya saya membaca tuntas buku ini. Lika liku kehidupan Dania pasca kematian Andro suaminya. Juga usaha Dania untuk mempertahankan katjoe manis (kafe kopi peninggalan suaminya). Kegigihan Dania, semangat pantang menyerahnya, juga kerasnya dunia bisnis serta seluk beluk kopi tergambar dengan sangat baik.

Kemunculan cabang Bread Time Bakery sebagai pesaing bisnis katjoe manis, mau tak mau mengingatkan saya pada Tara, si wanita cerdas pemilik Bread Time Bakery di A cup of Tarapuccino. Hal kecil yang menurut saya keren, karena penulis begitu saja menyisipkan benang merah di antara karya-karyanya. Kemunculan ini pula yang membuat saya berharap ada sedikit sunspense yang mewarnai kisah ini. Di tilik dengan keberadaan Redi dan ancaman-ancamannya, konflik yg sedikit memacu adrenalin mungkin masih pas jika diceritakan, sayangnya tidak ada. Kisah Redi dan ancamannya hilang begitu saja.

Dan begitu juga dalam urusan romantika, sudah menjadi sebuah keharusan sepertinya ^_^. Tokoh wanita dalam karya penulis selalu berada diantara 2 pilihan. Barry, barista muda yang juga sahabat suami Dania yang sudah meninggal ataukah Pram, pria dari masa muda Dania sekaligus pemilik cabang Bread Time Bakery yang menjadi pesaing bisnis kafe Dania.

Overall, saya suka kisah ini. memberi pengetahuan baru, membagi semangat pantang menyerah dan kerja keras, sekaligus menghadirkan kisah cinta yang membuat candu selayaknya secangkir kopi panas.


View all my reviews

10 komentar:

riawani elyta mengatakan...

thank you mbak Sarah, bukan keharusan, tapi branding, wkwkwk

sarah amijaya mengatakan...

Ahahay.....dah jadi ciri khas ya mba lyta:)

Fardelyn Hacky mengatakan...

Mbak Sarah, kayaknya kebalik tuh mbak
Harusnya Pram yang menjadi lelaki masa lalu Dania, sedangkan barry adalah seorang barista cafe kayu Manis :D

Mugniar mengatakan...

Saya salut sama penulis yang bisa membedah satu tema besar untuk sebuah novel :)

sarah amijaya mengatakan...

wkakaka, makasih mba Eky, udah diedit.

yess, sepakat sama mba Niar, bagi saya mba Riawani termasuk salah satu penulis dengan kriteria itu

Binta Almamba mengatakan...

baca ini jd jadi pengen ngopii hihi..

sarah amijaya mengatakan...

ngopinya tambah mantep kalu nyambi ngemil bread-nya si Tara mba binta xixixi

Linda Satibi mengatakan...

hihi.. iyaa.. aku jg jd pingin ngupii.. ^^

Eni Martini mengatakan...

Mba Sarah makin keren resensinya, aku jg bac akelar kalau ga salah awal2 januari apa ya, cm resensi novel masih deg2an, kawatir mngecewakan T.T

sarah amijaya mengatakan...

whehehe mba linda, hayuklah kita gelar tiker ngopi bareng ntar mb lyta suruh bawain bread-nya Tara hoho:)

whehehe makasih mba Eni. kalu mba yg ngeresensi pasti berkelaslah,kan penulis lebih paham teknik menulis :)

Posting Komentar