Selasa, 18 Februari 2014

Betang: Romantisme yang pas di hati



Judul : Betang, Cinta yang Tumbuh dalam Diam
Penulis : Shabrina Ws
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Tebal : 175 halaman
ISBN : 978-602-02-2389-6
Harga : Rp 29.600

Tak masalah duduk di haluan atau buritan, asal kau, tetap menggerakkan dayungmu!.

***

Danum lahir dan besar di rumah Betang (rumah adat Kalimantan). Diajatuh cinta pada dayung sejakpertama kali memilikinya. Bersama Dehen, sahabatnya, mereka menyusuri sungai-sungai, beradu kecepatan.

Atlet nasional! Keliling dunia! Dan mengibarkan merah putih di negeri orang! Keinginan Dehen menular padanya.

Tapi, semua tak semudah yang dia bayangkan.- Ketika Dehen telah sampai di Pelatnas, Danum harus menerjm'a kenyataan berkali-kali gagal di tingkat daerah.

Hingga ketika kesempatan itu datang, waktu justru mem-pertemukannya dengan berbagai pilihan.

Tetap tinggal demi orang yang dicintainya, atau pergi demi eita-citanya?

Memelihara benci pada sosokyang telah meninggalkannya, atau memaafkan dan mengambil ladang surga?

Menyimpan rapat perasaan yang telah mengendap di hatinya atau melihat sahabatnya terluka?

Dia penah berkali-kali gagal. Dia pernah berkali-kali kehilangan. Pada akhirnya waktu memberinya pelajaran, bahwa hidup sempurna , bukan berarti semua betjalan sesuai keinginannya
=======
Ditengah kesibukan yang meningkat, aku melirik puluhan buku yang belum terbaca. Dan memilih Betang, pada pilihan pertama. Alasannya simple: bukunya imut dan pengarangnya Mba Brien gitu loh ^_^. Ya setelah membaca Always be in your heart dulu, aku benar-benar menantikan karya mba Brien selanjutnya.

Betang, terselesaikan  kurang dari satu jam. Dan perasaanku saat itu “hah? Udah selesai?” kalu boleh meminta, maunya sih betang bisa lebih tebal lagi xixixi.
Untuk mengomentari Betang dalam satu kata aku Cuma punya kata “PAS”. 

Betang itu pas di hati. Kalu Always be in your heart bagiku menghadirkan romantisme yang “anggun”, Betang ini menghadirkan romantisme yang hangat. Gak penuh bunga-bunga, sederhana, tapi terasa hangatnya hingga di hati. 

Betang itu Pas di logika. Gak dangkal juga gak lebay kayak sinetron. Konfliknya gak meledak-ledak tapi justru terasa real hingga mampu menyeret emosi pembaca.

Betang itu Pas motivasinya. Tidak cengeng juga tidak membuai dengan mimpi-mimpi. Keberhasilan itu perlu kerja keras. Gak ada mimpi yang bisa terwujud jika kita hanya bermimpi.

Betang itu pas islaminya. Gak menggurui tapi pesannya dapet. Benar-benar sebuah novel islami yang mencerahkan dengan cara yang pas. 

 Membaca Betang, di benakku berkelindan semua kenangan bersama almarhum kaiku. Kai yang cerewet tapi sangat menyayangi cucu-cucunya. 

Membaca Betang, aku juga teringat sebuah rumah betang tak berpenghuni yang ada di daerahku. Yang sejak bisa mengingat rasanya rumah itu sudah tak berpenghuni dan kami entah bagaimana asal mulanya justru menyebutnya rumah Abunawas. Sekarang rumah betang ini sisa puing-puing, di sekitarnya sudah banyak dibangun rumah batu. Aku sempat bertanya-tanya kenapa masih dipertahankan oleh pemiliknya. Membaca Betang, aku jadi berpikir mungkin rumah Betang itu juga punya kenangan tersendiri sehingga pemiliknya masih terus mempertahankannya (meski rumornya itu rumah berhantu makanya gak bisa dirubuhin xixixi).

Dan, kalu gak kenal Mba Brien aku pasti mengira beliau ini asli Kalimantan. Penggunaan bahasa daerahnya, deskripsi setting, sampai pesan lingkungannya dapet banget. Kalu toh ada yang mengganjal saat membacanya cuman penggunaan kata “cowok”. Kata yang gak pas dengan kekalimantanan yang menyelimuti si Danum itu. Mungkin lebih pas dengan kata lelaki,pria, atau laki-laki. Gak penting banget deh, cuman rasanya aku yang lahir dan tumbuh besar dikalimantan ini memang asing dengan penggunan idiom tersebut. jadinya kalimatnya terasa janggal. Tapi asli gak mempengaruhi sama sekali kekerenan buku ini.

4 bintang dariku. Keep writing mba Brien. Semoga karya-karyamu semakin berkah dan menjadi amal jariyah bagimu…




4 komentar:

Shabrina ws mengatakan...

Aamiin.
Makasiiiih banyak Mbak Sarah. Sudah baca dan nulis reviewnya. #huf deg-degan dibaca ama Mbak Sarah.
Omong-omong jadi yang rumah betang yang kata Mbak itu gak bisa dirobohin. Pernah baca juga ada 1 blog yang cerita setelah bertahun-tehun di Jakarta, balik-balik rumah betang dah tinggal puing2 dan sekitarnya dijadikan tambang emas.

Dan untuk kata "cowok" iya ya...emang terasa aneh, apalagi untuk pov 1. Makasih ya Mbaak. Semoga lain kali saya lebih teliti :)

Leyla Hana Menulis mengatakan...

Bukunya memang tipis banget ya, rasanya masih kurang bacanya :D

sarah amijaya mengatakan...

hehe mba brien bisa ja pake deg-degan segala:)
mungkin bukannya gak bisa dirobohin tapi gak tega buat ngerobohinnya. sekarang dah gak bisa diliat dari jalan lagi mba ketutup bangunan2 beton disekelilingnya. tapi kapan hari pas kebetulan berhenti dekat situ masih ngeliat tuh rumah betang masih berdiri aja:)
iya mba ela....buku mba brien tipis2semua padahal keren bacanya kurang puaaas

Asy-syifaa Halimatu Sadiah mengatakan...

Hai Kak, tahun lalu ikutan Indonesian Romance Reading Challenge kan? Tahun ini ikutan lagi yuk ^^ Cek disini ya:
bit.ly/IRRC2015

Makasih :)

Posting Komentar