Senin, 27 Januari 2014

Dari Kontrasepsi hingga pelangi



 Cemburu adalah dosa yang paling rentan dialami perempuan. Uniknya perasaan ini justru tumbuh saat berinteraksi dengan sesama kaumnya.

Liat saja Moza. Meskipun tampak bahagia - bahagia saja dengan kehidupan pernikahannya, diam - diam Moza menyimpan iri hati yang besar terhadap Neyne, sahabatnya yang masih melajang.

Neyne selalu berkoar - koar tentang enaknya hidup single. Tapi kenapa dia tak bisa menyembunyikan perasaan cemburunya ketika Keira dilamar sang pacar?

Keira lain lagi ceritanya. Dia salut melihat Moza yang begitu kekeuh menjalani tanggung jawab sebagai ibu. Dia sendiri juga pengen punya anak... suatu hari nanti - entah kapan.

Dan ketika belakangan ketiganya dihadapkan kepada situasi yang melibatkan alat kontrasepsi, tiba - tiba rasa cemburu itu terasa tak perlu...
================================================


Judul       : Kontrasepsi

Penulis     : Eni Martini

Penerbit   :Gagas media

Tahun       : 2009

ISBN        : 979-780-380-5


Membaca novel ini, entah mengapa aku terngiang-ngiang ucapan salah seorang rekan kerja yang sudah senior : ”Dengan segala kemudahan zaman sekarang, entah kenapa banyak perempuan itu justru takut punya anak banyak. Dulu, mana ada diapers, mana ada mesin cuci, mana ada makanan bayi instant. Sekarang apa sih yang gak ada. Zaman sudah menyediakan banyak kemudahan dan bantuan untuk meringankan beban seorang ibu. Herannya orang dulu berani punya banyak anak dan anak-anaknya “hidup” aja tuh, “jadi orang” juga. Kenapa ibu-ibu sekarang pada sibuk KB???”.

Sebagai catatan, aku bukan obyek langsung yang menjadi sasaran kalimat-kalimat tersebut, jadi aku hanya tersenyum-senyum, dan no comment.

Meski dalam hati aku mengiyakan, sekaligus  menjawab : Zaman dulu kondisi  belum semaju saat ini, teknologi dan arus informasi yang minim membuat anak-anak tumbuh dengan lebih stabil. Coba zaman sekarang, kemajuan teknologi dan kemudahan arus   informasi itu, pisau bermata dua bukan? Jumlah anak yang banyak juga berpotensi kurangnya pengawasan dan pendampingan orang tua terhadap tumbuh kembang anak-anak mereka. Tapi, aku juga termasuk orang yang paham bahwa Rasulullah menyukai jumlah ummatnya yang banyak. Kontrasepsi bagiku, tidak berarti membatasi jumlah anak. Sekadar mengatur jarak kelahiran, sehingga tumbuh kembang anak lebih optimal.

Halnya novel Kontrasepsi ini, memaparkan beragam polemik yang dihadapi 3 wanita dan pilihan  mereka terhadap kontrasepsi dengan gaya lincah tanpa deskripsi  bertele-tele. Masing-masing tokohnya mewakili permasalahan yang biasa terjadi. Dari wanita yang tak siap memiliki anak, wanita dengan anak lebih dari satu dengan segala kerepotannya,juga wanita yang mendambakan anak. 

Protes-protes terdalam yang mungkin pernah dirasakan para wanita terkait pasangan mereka, Kekhawatiran bahkan ketakutan seorang wanita yang lajimnya tak dimengerti kaum pria terpapar dengan seru serta didukung  kisah persahabatan yang manis

Mmm,novel ini sebenarnya novel ketiga dari Mba Eni Martini yang sudah kubaca.  Pertama-tama aku membaca Rainbow, kemudian bersandarlah dibahuku, dan kali ini kontrasepsi. Aslinya novel-novel ini terbit dengan urutan terbalik. Kontrasepsi,, bersandarlah dibahuku, dan kemudian Rainbow. Mengapa urutan ini menjadi penting???
Karena meski lumrahnya karakter penulis itu lepas dari tulisannya, saya percaya bahwa pandangan hidup seorang penulis tetap akan terselip dalam setiap karya-karyanya. Menjadi ruh yang menggerakkan gaya hidup juga karakter-karakter di dalam karyanya. Sekaligus menentukan bagaimana kisah akan berakhir dan pesan apa yang ingin tersampaikan.

Eni Martini, tampaknya telah melalui sejumlah pergeseran pandangan hidup dimana hal tersebut termaktub pula dalam pergeseran gaya hidup tokoh-tokoh dalam novelnya.

Kontrasepsi dan Bersandarlah dibahuku, mengambarkan dengan lugas kehidupan para wanita urban yang terbiasa dengan fashion, rokok,wine, clubbing, bahkan freesex. Sebuah gaya hidup yang kini sudah menjamur namun jelas melangkahi norma-norma ketimuran. Tapi dalam rainbow pergeseran gaya hidup tokoh-tokohnya cukup signifikan. Terasa lebih sopan dan agamais. Bahasanya pun tak lagi terasa vulgar. Pun demikian, Penulis  tetap setia dengan gaya penuturan dari sudut perempuan yang khas dengan karakter mandiri dan tegarnya. 

KontrasepsiAku suka gaya bertutur Mba Eni, bab awal yang tidak bertele-tele dengan deskripsi ini itu tapi langsung mengena pada konflik utamanya. Ketiga novel ini sama-sama memiliki jalinan cerita yang bergelombang hingga akhir. Menarik hingga akhir.

 Penulis juga tampaknya suka mengangkat tema tentang permasalahan dewasa muda/pasutri baru, dengan konflik yang nyatanya memang sering terjadi. Sehingga setiap karyanya pada akhirnya selalu memberikan  pencerahan bagi pembaca.

Dan menilik ketiga novel ini, aku bersyukur mengenal Eni Martini yang telah bermetamorfosis menjadi seperti saat ini. Sehingga beliau akan terus menelurkan karya-karya yang nyaman dibaca namun tetap sarat dengan kebaikan. 

Bukankah demikianlah idealnya sebuah fiksi,tidak melulu menawarkan mimpi-mimpi.






6 komentar:

Eni Martini mengatakan...

wkwkwkwk..keren mba resensinya, hidup memang beralur. melewati itu semua, seperti sebuah ilmu hidup yang indah..makasih

sarah amijaya mengatakan...

hehehe...begitulah hidup mba. yang penting makin kesini makinbaik ya....tetap semangat mba yu sayang....:)

riawani elyta mengatakan...

Kontrasepsi novel pertama mbak Eni yg kubaca, mampir juga di postingan2 terbaruku yuk mbak ---> http://www.riawanielyta.com/search/label/IRC%202014, makasih :)

Ila mengatakan...

aku belum pernah baca yang ini, mba sarah

sarah amijaya mengatakan...

siaap mba Ria ^_^

Ahahay Ila, penasaran ya mau baca??:P

Leyla Hana Menulis mengatakan...

Mba Eni memang semangat banget klo ngomongin soal KB wkwkwk.... sudah bisa membayangkan jalan cerita buku ini :P

Posting Komentar