Rabu, 05 Februari 2014

The Marriage Roller Coaster: Nikmati naik turun pernikahanmu !!!




Sinopsis

Kehidupan pernikahan itu bagaikan roller coaster. Yes? No?

Jungkir balik! Kadang di atas, kadang di bawah. Ada yang menikmati dan tertawa bahagia, ada juga yang tersiksa dan menangis tersedu. Setelah mencobanya, setiap orang punya pilihan masing-masing: ingin terus mencoba atau justru kapok luar biasa.

Bagaimana dengan Audi dan Rafa? Kehidupan urban yang dijalani pasangan ini memberi tantangan lebih pada pernikahan mereka. Bagaimana mencari waktu untuk bersama di tengah kesibukan mereka. Bagaimana mengatur mood setelah semua energi positif hilang di kantor. Bagaimana menahan godaan dari orang yang pernah hadir di masa lalu.
Akankah mereka terus mencoba dan bertahan? Atau justru kapok dan menyerah? 

--


 Judul     : The Marriage Roller Coaster
Penulis  : Nurilla Iryani
Tebal    : 206 halaman
Harga   : 42.000

Dalam kaca mata subyektifku, aku punya beberapa standar untuk menyukai bacaan fiksi. Berat ringan suatu bacaan itu gak ngaruh. Soal hibur menghibur bisa dinegolah ^_^, tapi punya pesan yang bisa mencerahkan pembaca itu syarat mutlak.

 Seperti kata seorang kawan, membaca itu berarti meluangkan waktu kita, jadi harapannya waktu yang sudah diluangkan itu gak menjadi sia-sia. Jelas harus ada nilai positif yang bisa merefresh jiwa pembaca. Entah memperkaya pengetahuan, menginspirasi cara bersikap, atau mencerahkan pemikiran.

Jadi, bagaimana dengan The Marriage Roaller Coaster (TMRC) ini???????

Yang jelas aku suka buku ini ^_^. 

Dalam 3 kata : ringan, menghibur, berhikmah.

Alurnya cepat, pemilihan kata pas dan nyaman. Biasanya aku terganggu dengan penggambaran gaya hidup masyarakat urban dalam novel sejenis. Tapi novel ini bagiku cukup santun sekaligus tetap mampu menggambarkan realitas.

Audi si wanita karier, dengan hobby shoppingnya sebagai pembunuh sepi karena suaminya, Rafa seorang workaholic.

Membaca kisah Audi-Rafa ini, jadi mengingatkan bahwa pernikahan itu gak berarti akhir dari sebuah pencarian cinta. Jangan pernah berpikir di dunia nyata slogan kisah para putri-putri di dongeng itu berlaku “….dan merekapun hidup bahagia selamanya”.

Menikah dengan orang yang kita cintai hanyalah berarti bahwa kita memiliki pondasi yang cukup untuk membangun sebuah istana kebahagiaan. Cinta itu sendiri tentulah perlu dipelihara, bahkan dipupuk hingga tumbuh subur,dan bersemi dengan indah.

“Mungkin sekarang aku masih cinta sama kamu, tapi bagaimana cintaku bisa bertahan kalau kamu bahkan nggak pernah ada buatku? Kata orang,cinta bisa  datang karena terbiasa. Bagiku, cinta bisa hilang karena terbiasa nggak ada.” (hlm. 183)

Adalah Rafa, yang merasa bahwa membahagiakan pasangan cukup dengan melimpahinya dengan pundi-pundi uang. Untuk segala kekurangan pengertian, perhatian, waktu, komunikasi, bahkan kasih sayang maka tugas istrilah yang harus memahami semua itu. Jangan mengeluh, jangan menangis, jangan membantah. Gak kebayang kalu Rafa ini suamiku, beuuu….*_^.

Sebagai suami yang nyaris gak punya waktu untuk istrinya, gak pengertian, egois, rasanya lucu juga karena karakter Rafa ini posesif abiiisss. Biasanya sih orang yang posesif itu selalu ngecek tuh pasangannya dimana, lagi apa, sama siapa. Nah Rafa ini saking cueknya mana tau istrinya pulang jam berapa, atau kemana aja. Buat aku karakter Rafa ini jadinya kompleks. Terlebih ketika ada acara menangis dan berlututnya Rafa saat Audi berpikir untuk berpisah saja.

Untuk karakter Audi sendiri, aku suka. Wanita karier yang hampir meraih mimpi tapi rela melepaskan karier demi menuruti suami. Wanita yang rela mengesampingkan kesenangan-kesenangan pribadi demi janin yang dikandungnya itu juga Te O Pe banget deh. Aku juga suka cara Audi menghadapi Yoga, pacar perfect dari masa lalunya itu. Bagian labil-labil dan galaunya itu masih normallah ^_^.

Meski Yoga menawarkan hari-hari yang penuh kebahagiaan, no pain, no cry, Audi mampu memahami bahwa pernikahannya dengan Rafa bukannya berakhir hanya sedang down saja.
”Marriage is like roller coaster. Ada ups ada downs. (hlm. 175)

 “Bukankah manusia nggak pernah ada puasnya? Aku harus belajar untuk bahagia dengan apa yang aku punya. Itu kan artinya bersyukur?”

“Dia  memang bikin aku nangis, tapi dia juga yang bias bikin aku bahagia. Sometimes the one who makes you cry is also the one who can make you smile all over again.” (hal 200)

Overall, novel ini dengan ringan berhasil menyuguhkan kisah naik turunnya hubungan pasutri dalam pernikahan. Tidak hanya layak dibaca para wanita tapi juga para pria. Bagaimanapun kompromi itu dari dua belah pihak, Jika hanya salah satu pihak yang mengusahakan sebuah rekonsiliasi maka tak akan pernah ditemukan penyesuaian yang tepat. Bukankah  Kebahagiaan itu saling terkait? Yes? No? ^_^

3 komentar:

Syifa dhani mengatakan...

resensinya bagus dik.Kebetulan aku juga sudah beli bukunya. Setuju banget dengan komitmenmu di awal resensi,Harus ada nilai positif, yang bagiku istilahnya membaikkan. Kalau nggak, lebih baik melakukan hal lain bukan?

sarah amijaya mengatakan...

toooss mba dhani:) makasih udah berkunjung ya.....

Peri Hutan mengatakan...

aku penasaran banget sama buku ini >.<

Posting Komentar