Kamis, 23 Januari 2014

Antara kopi dan Ice Cream







Judul : The Mint Heart
Penulis : Ayuwidya
Halaman : x + 326 halaman
Cetakan : I, Maret 2013
Penerbit : Bentang Pustaka
ISBN : 978-602-7888-21-0





Buku ini salah satu dari seri what’s your love flavour. Sebelum membaca buku ini aku sudah terlebih dulu menyelesaikan membaca the coffee memory dan the Mocha eyes. 


Tidak bermaksud membandingkan sebenarnya,tapi bagaimana ya...mmmm kesan setelah membacanya jauuuh berbeda.Kalau soal entertainment novel inijelas lebih unggul. Bahasanya lincah, karakternya hidup. Saya ikut tertawa ketika Lula bertingkah konyol. Ikut jutek ketika Lula merasa cemburu ataupun bersedih. Tapi karena dituturkan dengan pov berganti-ganti antara Lula dan Leon. Pembaca jadi tau segalanya. Rasanya ikut merasa kesal bin konyol gegara kesalah pahaman  antara Leon-Lula.

Lula yang memang warm dan ceria terdeskripsi dengan sangat baik. Leon yang katanya cool dan cuek rasanya bertutur gak jauh berbeda seperti Lula. Kalau gak ada tulisan LULA atau LEON ketika pergantian POV rasanya aku pasti kebingungan membedakan “ini sapa sih yang lagi cerita”. Karakter Leon terseret oleh karakter Lula, cool dan cueknya jadi gak berasa.

Tapi, seperti yang kutulis di awal, buku ini benar-benar menghibur. Kalimat-kalimatnya segar dan tanpa terasa bikin tersenyum-senyum sendiri. Benar-benar menghibur. Meski setebal 300 sekian halaman, gak pake lama  juga kelar.

Terkait dua seri what your love flavour yang sebelumnya kubaca, rasanya jelas jauh berbeda. Coffee memory maupun mocha eyes mengangkat tema “besar” yang kemudian dipermanis dengan konflik cinta. Bisnis dan kopi dalam the coffee memory. Trauma korban perkosaan pada Mocha eyes. Memang, hal yang membuat kedua novel ini terasa sedikit “berat” bagi yang tak terbiasa atau ketika membandingkannya dengan the Mint Heart, terlebih The mocha eyes yang memang banyak memuat filosofi ini dan itu. Tapi, Ada pesan-pesan kehidupan yang menginspirasi pembaca di dalamnya. Ada hikmah kebaikan dalam setiap jalinan ceritanya. Dan lika-liku percintaannya pun terjalin dengan rasa yang “serius”. 

Halnya The mint heart. Tema utamanya adalah cinta itu sendiri. Jalinan kisahnya berkutat pada usaha menautkan dua hati yang saling mencinta itulah. Profesi photografer dan reporter itu hanya menjadi pendukung kisah cinta. Lika-liku percintaannya terjalin dengan lincah dan “meledak-ledak” khas jiwa muda.

Mungkin demikianlah segmen love flavour terbagi. Yg beraroma kopi lebih tepat bagi dewasa muda. Yang rasa ice cream bagi kawula muda. 

Membaca ketiga seri love flavour melahirkan 2 hal bagi saya.

Yang pertama,  sesungguhnya saya penasaran akan rasa keempat: The Chocolate chance, semoga suatu saat nanti juga berkesempatan membacanya.

Yang kedua, saya jadi  bertanya-tanya, apa sebenarnya yang lebih penting dalam sebuah hasil karya. Pesan yang ingin disampaikan ataukah kisah ringan full entertainment yang membuat pembaca tak perlu memikirkan apa-apa ketika membacanya. 

Mmmm, tentu saja hal itu berpulang pada selera masing-masing pembaca. Meski secara pribadi saya berharap akan terus bermunculan karya-karya anak bangsa yang tidak hanya menghibur tapi sekaligus menyebar kebaikan demi kebaikan melalui beragam tulisan.

9 komentar:

Mugniar mengatakan...

Judulnya keren2 ya mbak ...

sari widiarti mengatakan...

waktu kapan hari, bentang pustaka adain review yang love flavour. Mbak sara udah ikutan? tapi udah pengumuman pemenang sih :D

sarah amijaya mengatakan...

Iya mba Niar, judulnya emang keren-keren. biking ngiler wkekekeke

aku gak ikutan Sari, waktu ituh belum khatam baca semuanya. sekarang mah baru diresensi

Binta Almamba mengatakan...

oh saya sangka yg mint ini isinya dingin2 serius gt temanya.. trnyata malah yg lucu2 lincah ya? salah presepsi hehe..

Ila Rizky mengatakan...

makin penasaran sama buku ini apalagi sempet direkomendasikan ama adekku :3

Eni Martini mengatakan...

pesan yang disampaikan dunk, saya paling malas baca sesuatu ga dpt apa-apa krn mbacakan barti 'meluangkan' usia kita berapa wkt..hehhe. makin keren mba resensinya ^_^

riawani elyta mengatakan...

Aq punya nih mint heart tp blm kelar baca:-)

sarah amijaya mengatakan...

Ahahay itu namanya jangan menilai buku dari judulnya mba binta:)
kalau buat ila kayaknya cucok deh, masih muda, masih penuh bunga-bunga pencarian cinta sejati whehehe

sarah amijaya mengatakan...

sip mba Eni, andai semua penulis berpikir seprti itu*_^

bukan seleranya mba ria sepertinya, kaga selesai bacanya????

Posting Komentar